Permen Tembakau sebagai Alternatif Produk Pengganti Rokok
Meski
berbagai peringatan dan penelitian tentang bahaya merokok telah dilakukan,
jumlah perokok di seluruh dunia termasuk Indonesia dari tahun ke tahun masih
cukup tinggi. Menurut data dari National Geographic 2019, perokok di seluruh
dunia dapat membeli sekitar 18 miliar batang rokok setiap hari atau setara
dengan 6,5 triliun batang rokok setiap tahun. Sementara itu, dikutip dari
Katadata, jumlah perokok di Indonesia mencapai 25% dari jumlah penduduk berdasarkan
hasil penelitian yang berjudul Global Adult Tobacco Survey yang
dilakukan Kementerian Kesehatan Indonesia bersama World Health Organization
(WHO). Fakta mengenai tingginya konsumsi rokok di Indonesia juga diperkuat
dengan adanya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 yang
menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan uangnya untuk
membeli rokok dibandingkan dengan membeli kebutuhan pangan yang bergizi.
Mulai
tahun 1950-an, mulai banyak penelitian yang menyatakan hubungan sebab-akibat
antara merokok dengan gangguan kesehatan paru-paru hingga risiko kematian. Munculnya
berbagai penelitian tersebut ternyata tidak membuat banyak perokok di dunia
memutuskan untuk berhenti merokok. Namun, karena kekhawatiran masyarakat akan
rokok cukup meningkat, muncullah suatu solusi dari para produsen rokok sebagai
upaya untuk mengurangi bahaya rokok, salah satunya yaitu dengan filter rokok. Filter
rokok telah diklaim dapat menahan beberapa bahan kimia berbahaya yang dapat
terhirup oleh perokok, tapi faktanya, filter ternyata tidak cukup membantu
untuk mengurangi risiko bahaya rokok bagi kesehatan para perokok.
Di
Indonesia, berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk terus mengurangi
jumlah konsumsi rokok di Indonesia, mulai dari membuat aturan mengenai iklan
rokok serta aturan untuk mencantumkan dan memberikan gambaran bahaya kesehatan rokok
di kemasan rokok, bahkan hingga menaikkan tarif cukai rokok hingga 12%. Akan
tetapi, berbagai cara tersebut ternyata masih belum mampu menekan jumlah
perokok karena faktanya hingga kini jumlah perokok khususnya di Indonesia masih
cukup tinggi.
Berbagai
ancaman bahaya seperti risiko berbagai jenis kanker, penyakit jantung, stroke,
emfisema dan penyakit pernapasan lainnya yang banyak diserukan kepada perokok
tetap tidak cukup untuk membuat mereka berhenti. Padahal, asap yang timbul dari
merokok tidak hanya berbahaya bagi diri perokok sendiri, tetapi juga berbahaya
bagi orang lain yang tidak merokok (perokok pasif). Namun, mendesak agar
pemerintah benar-benar melarang konsumsi rokok di Indonesia terus menjadi
perdebatan. Pasalnya, rokok termasuk bahan bakunya yaitu tembakau menjadi salah
satu penyumbang terbesar dalam penerimaan cukai negara. Tidak hanya itu,
beberapa aturan yang selama ini direncanakan untuk mengurangi tingkat konsumsi
rokok terus menjadi perdebatan karena secara langsung juga akan mengurangi
tingkat kesejahteraan petani tembakau. Oleh karena itu, perlu adanya suatu
inovasi atau alternatif produk lain dari tembakau selain rokok agar
perekonomian negara dan kesejahteraan petani tembakau tidak terancam.
Beberapa alternatif produk untuk mengurangi
konsumsi rokok telah dikembangkan beberapa dekade ini, seperti E-cigarettes
atau rokok elektrik dan vape. Namun, ternyata, produk-produk tersebut tetap
tidak dapat menghilangkan bahaya rokok secara keseluruhan, baik bahaya bagi
perokok sendiri (perokok aktif) maupun perokok pasif. Hingga akhirnya, muncul
sebuah ide untuk membuat produk dari tembakau selain rokok. Produk tersebut
adalah tobacco candy atau permen tembakau. Dalam penelitian berjudul Tobacco
Flavour Candy Inovation Tend to Zero Nicotine Tobacco-Candy as Smoke Substituen
pada 2011 menyebutkan bahwa sangat memungkinkan untuk membuat permen tembakau
sebagai produk berbahan dasar tembakau untuk pengganti rokok. Meskipun permen
tembakau belum dapat berpengaruh besar terhadap penurunan atau pengurangan
konsumsi nikotin khususnya bagi para perokok, tetapi setidaknya, penyebaran
nikotin dapat diminimalisasi atau dengan kata lain dapat mengurangi istilah
perokok pasif. Dengan itu, paparan nikotin akan berkurang sehingga dapat
menekan efek buruk nikotin yang selama ini juga menyerang perokok pasif.
Permen tembakau menjadi salah satu
produk yang potensial untuk ditawarkan kepada orang yang sudah mengalami
kecanduan terhadap rokok. Kecanduan terhadap rokok tersebut berasal dari rasa
serta aroma yang timbul dari bahan dasar rokok yaitu tembakau. Karena itulah,
mengemas rasa dan aroma tembakau dalam bentuk permen bisa menjadi produk
pengganti rokok atau juga menjadi produk alternatif bagi perokok aktif ketika
berada di lingkungan bebas asap rokok, tetapi tetap ingin menikmati sensasi
rasa serta aroma tembakau. Dengan kata lain, permen tembakau dapat menjadi
pilihan bagi para perokok untuk memenuhi kebutuhan nikotin tanpa harus
menimbulkan asap sehingga ini sekaligus menjadi langkah yang cukup bijak untuk
mencegah adanya perokok pasif yang seringkali terpapar asap rokok.
Permen tembakau atau terkadang juga
disebut sebagai permen nikotin, dibuat dari campruan gula, air, dan beta-piridil-alpha-N-methylpyrrolidin
(nikotin) yang kemudian membentuk padatan pada suhu kamar sebagai permen
nikotin padat yang larut dalam air. Dari campuran tersebut, terlihat adanya
nikotin yang ditambahkan dalam formulasi permennya. Meski telah dikemas dalam
bentuk permen, tentunya produk tembakau ini tidak sepenuhnya aman, mengingat
adanya kandungan nikotin dan efek nikotin yang menimbulkan kecanduan. Oleh
karena itu, konsumsi permen tembakau ini tetap harus diperhatikan dan tentunya
harus diawasi peredarannya agar tak dikonsumsi pula oleh non-perokok terutama
anak kecil.
Selain sebagai alternatif produk
pengganti rokok, permen tembakau juga dapat digunakan sebagai salah metode terapi
bagi para perokok akut yang ingin menghilangkan ketergantungan terhadap rokok.
Adapun, metode terapi tersebut sering disebut sebagai Nicotine Replacement
Therapy (NRT) yang umumnya berupa berbagai jenis produk dengan kandungan
nikotin yang tidak terlalu tinggi. Untuk tujuan tersebut, permen tembakau dapat
diformulasi dengan nikotin berdosis rendah sehingga secara perlahan dapat mengurangi
gejala-gejala putus nikotin yang seringkali terjadi kepada orang yang tiba-tiba
berhenti merokok, seperti susah tidur, sakit kepala, mudah marah, sulit
berkonsentrasi, stress, mual, hingga konstipasi. Dengan adanya NRT berupa
permen tembakau ini, gejala-gejala putus nikotin menjadi berkurang sehingga
seseorang yang ingin berhenti merokok tersebut dapat menjalankan aktivitas
sehari-seharinya dengan baik dan mengurangi keinginan untuk merokok. Dengan
itu, kebiasaan merokok seseorang tersebut akan berkurang secara bertahap hingga
diharapkan akhirnya akan benar-benar memutuskan untuk berhenti merokok. Agar
proses untuk berhenti merokok menjadi lebih maksimal, permen tembakau dengan
kandungan nikotin berdosis rendah ini dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu
dan selama jangka waktu tersebut, seorang perokok tidak diperbolehkan untuk
merokok walaupun hanya sekadar mencicipi. Dengan demikian, seorang perokok
tersebut diharapkan dapat berhenti merokok secara total.
Meski berbagai upaya telah dilakukan
untuk benar-benar mengurangi tingkat konsumsi rokok, jumlah atau tingkat
pembelian rokok hinga saat ini masih cukup tinggi. Penyelesaian untuk
permasalahan tingginya tingkat konsumsi rokok di berbagai negara termasuk
Indonesia tentu memerlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak. Tentunya,
peran para perokok di sini yang harus lebih besar dan lebih bijak. Selain
karena efeknya untuk kesehatan diri perokok sendiri, kebiasaan merokok mereka
yang menimbulkan asap rokok juga dapat membahayakan orang lain yang tidak
merokok (perokok pasif). Karena itulah, produk alternatif pengganti rokok,
yaitu permen tembakau dapat menjadi pilihan yang tepat. Selain itu pula, produk
alternatif tersebut dapat digunakan sebagai metode terapi untuk mulai berhenti
merokok dengan mengurangi rasa kecanduan terhadap nikotin. Namun, sangat
disayangkan karena produk pengganti rokok ini belum banyak beredar dan belum
terlalu familiar di kalangan masyarakat Indonesia.
Referensi
:
Root, T. (2019).
What's The World's Most Littered Plastic Item? Cigarette Butts. Diakses pada 11
September 2022 dari National Geographic:
https://www.nationalgeographic.com/environment/article/cigarettes-story-of-plastic
Hartini, S.,
Andini, S., & Simanjuntak, B. H. (2011). Tobacco Flavour Candy Inovation
Tend to Zero Nicotine Tobacco-Candy as Smoke. Jurnal Litbang Provinsi
Jawa Tengah, 9(2), 124-129.
Yesidora, A.
(2022). Indonesia Darurat Konsumsi Rokok, 25% Penduduk Jadi Perokok. Diakses
pada 11 September 2022 dari katadata.co.id: https://katadata.co.id/yuliawati/berita/629a4c7ae4079/indonesia-darurat-konsumsi-rokok-25-penduduk-jadi-perokok

Komentar
Posting Komentar